Sabtu, 28 Juli 2012

INGIN KEMBALI


Siang ini, saat mentari kembali menunjukkan kegagahan dan kepongahannya. Saat sang surya mengibaskan pesona kejantanan yang mempesona. Saat langit beratapkan awan yang berbaris rapi dengan diiringi alunan merdu suara dari langit. Saat inilah aku seorang diri di dalam sebuah musholla kecil yang penuh kelembutan dan kedamaian dunia.
Jari – jemariku mulai menjalankan tugasnya lagi dengan menggoreskan pena kesejatian yang telah lama belum tergarap secara sempurna. Berteman dengan stereo mini amplifier yang dipadu dengan mic kecil yang biasanya dijepitkan ke kerah baju dan beberapa Al-Qur’an usang dan baik yang telah menjadi satu. Terikat satu sama lain. Aku pun sama, terikat oleh suasana yang membuat aku semakin betah berada disini.
Siang ini, aku sengaja tidak menginjakkan kaki terlebih dahulu ke rumah orang tuaku karena tidak ada makanan disana. Toh saat ini aku juga sedang menahan lapar dan haus seharian selama sebulan penuh. Ya, aku sedang berpuasa di bulan penuh berkah dan rahmat. Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya tersimpan berjuta makna dan rahasia keagungan Dzat Sang Penggenggam Langit dan Bumi. Dia juga yang aku berada dalam genggaman tangan keperkasaan dan kedigdayaan-Nya.
Sengaja memang, setelah setengah hari menghabiskan pengabdian di sekolahan tempatku bekerja sekaligus menimba ilmu dan mengalirkannya kembali ke murid – muridku, aku tidak langsung pulang. Aku malas pulang, seperti yang telah terlintas sebelumnya. Aku sekarang lagi menunggu tugas yang mulia untuk membagikan Al-Islam, semacam buletin mingguan dari Hizbut Tahrir yang menjadi partai politik Islam Ideologis internasional dan terbesar di seluruh dunia. Ya, biasanya isi Al-Islam itu membahas seputar kedzoliman penguasa yang ada saat ini, mungkin juga menceritakan kejadian di dunia internasional, atau pernah juga mengupas dan mengiris kecil – kecil masalah ibadah – ibadah sehari – hari yang terkadang juga membongkar sekat – sekat kebengisan, kebejatan dan keangkaramurkaan penjajah mereka, kaum muslimin. Siapa lagi kalau bukan amerika dan sekutunya yang berideologi kapitalisme sekuler dan anak – pinaknya. Sengaja amerika ku tulis dengan huruf kecil meski dalam kaidah Ejaan Yang Disempurnakan seharusnya besar. Aku tidak peduli. Kalau mengingat – ingat perlakuan amerika kepada saudara – saudaraku yang se-iman dan se-aqidah, rasanya aku ingin sesegera mungkin memenggal seluruh pemimpin amerika dan kroni – kroninya di sepanjang garis pantai di seluruh dunia yang bisa dijangkau oleh indraku ini. Ingin rasanya aku mencabik – cabik dan menguliti muka – muka mereka seperti halnya mereka telah menginjak – injak dan mencabik – cabik harga diri dan kehormatan saudara – saudaraku. Sudah tak terkira lagi perasaan yang ingin ku tuangkan dalam beberapa lembar kertas yang sengaja ku goreskan dengan tinta sang suryaku ini tentang kebencianku pada amerika dan begundal – begundal iblis yang semoga dilaknat oleh Sang Penguasa Jagat Raya. Amin !!
Kalau sekarang, bagian tubuh dari buletin itu mengandung darah – darah yang mengalir deras di setiap sel – sel yang bisa ditembus oleh merahnya darah , darahnya merah dengan bertuliskan “Penerapan Syariah Islam, Selamatkan Remaja dari Kenakalan dan Kriminalitas”. Ya, itulah tema besar yang dibahas kali ini. Sebuah tema yang sangat tepat jika dikaitkan dengan kondisi carut – marutnya negeri ini dengan segala pernak – pernik yang menghiasinya. Sebuah tema yang tentu jika kita sebagai orang yang beradab tentulah akan merasa miris seakan kulit dan otot – otot tubuh teriris – iris dan tercabik – cabik taring singa si raja hutan yang sedang kelaparan dan haus akan kekuasaan hutan yang hendak dirajainya.
Tema kali ini mengangkat fenomena yang berkembang di tengah masyarakat dewasa ini dengan cepatnya perputaran waktu yang terkadang kita tidak pernah sempat bisa menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mengamati kejadian apa saja yang terjadi, sehingga tau – tau ternyata kita telah kehilangan informasi berharga seberharga intan yang baru ditemukan di dasar lautan lepas dan kita sudah terlambat untuk menggaetnya kembali karena tangan lemah kita sudah tak kuasa mengambil barang yang telah lama pergi jauh meninggalkan kita.
Sungguh kasus yang sudah menggurita bak ramainya genangan air di seantero jagad raya ketika musim hujan telah tiba. Kisah anak yang sudah berani melakukan tindakan di luar kewajaran yang bisa dilakukan oleh akal sehat manusia normal. Penghilangan nyawa yang tidak berhak dan belum berhak hilang nyawa dilakukan dengan sadar sesadar – sadarnya. Penghilangan kehormatan yang harusnya dijaga dan dirawat dengan baik sebaik – baiknya malah dimakan dengan rakus dan tidak beradab. Banyak lagi masalah yang seakan menjadi fenomena gunung es yang sewaktu – waktu bisa meledakkan dirinya sendiri dan memuntahkan lahar panas yang bisa mengenai semua orang dan seluruh makhluk hidup dan mati di semua permukaan dan di bawahnya bumi dan langit beserta isinya.
Tentulah dan sudah barang tentu sudah menjadi sebuah ketentuan yang sudah tentu semua persoalan di atas dan ditambah dengan semua kompleksitas permasalahan yang pernah ada, sedang ada dan akan ada di dunia fana ini harus dibabat habis dan diselesaikan sampai ke akar – akarnya dengan hanya oleh Syariat yang baik dan memuaskan akal serta menentramkan jiwa yang bersumber dari Dzat Yang Maha baik.........
Aku mau berangkat dulu ke masjid di seberang jalan raya di depan musholla kecil tempatku melancarkan strategi – strategi untuk membangun peradaban umat ke depan menjadi lebih baik lagi dengan dinaungi oleh awan  keridlaan dan kelembutan Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan kita semua yang saat ini masih hidup , mau hidup dan sudah hidup di dunia yang penuh fana dan kegersangan hakikat Ilahiyah. Tuhan kita semua yang kita bisa bernafas atau tidak pernah bisa bernafas sama sekali. Baik yang di darat, laut atau udara. Baik yang terindra atau hidup di antara indra – indra yang saling mengindra.
Aku mau berangkat untuk melaksanakan sholat Jum’at dengan para saudaraku yang lebih dari sekedar darah merah. Sungguh indah dan menentramkan hati jika bisa bersua dan menyatu dalam ruh Ilahiyah di dalam bangunan kokoh tak terbendung untuk sama – sama memuji dan menghamba kepada Dzat yang Esa. Esa dalam segala. Esa dalam semua. Esa dalam apa dan mengapa..............
Masjidnya terasa begitu menyejukkan di tengah kering kerontangnya hawa panas membara mendekap jiwa yang lemah. Masjidnya terletak tepat di seberang jalan yang sedang ramai kendaraan roda dua, tiga, empat dan banyak roda lagi yang saling membalap untuk mengejar sesuap nasi yang sebenarnya telah pasti. Aku pun juga sama, sedang berbalap liar dengan kawan – kawan seperjuangan di jalan dakwah untuk menggapai surga tertinggi dan terindah yang pernah ada. Surga yang sengaja di buat oleh Tuhanku untuk dipersembahkan dan dibuka bagi hamba – hamba-Nya yang selalu berlari kepada-Nya. Semoga aku bisa mendapatkan itu, meski hanya satu. Aku merasa utuh. Terpenuh seluruh.
Ku ambil air suci tanpa noda dan debu – debu jalanan yang sempat menghampirinya di sebelah musholla kecilku yang kugunakan untuk berwudhu sebagai persiapanku dalam melaksanakan ibadah sholat Jum’at. Sengaja ku ambil air wudhu di kamar mandi samping musholla yang dingin dan sepi karena biar nantinya kakiku langsung melangkah menaiki tangga masjid dengan tanpa menyentuh kembali air di kamar mandi masjid tersebut. Langsung bisa berhadap penuh harap kepada Sang Penguasa Jagad.
Langsung ku meluncur tanpa roket dan sayap – sayap yang biasanya dipakai oleh burung untuk menjelajahi angkasa. Bukan pula mengepakkan sayap – sayap patahku. Karena meski patah, aku jelas tidak punya sayap seperti yang dimaksud. Ku pinjam sandal ke tetangga sebelah musholla biar bisa ku pakai untuk melindungi kakiku yang terlalu sayang jika terkena duri – duri yang tidak bertanggung jawab dan segera menghilang dalam keremangan lentera.
Setelah semua proses telah terlalui, aku langsung meluncur ke masjid tersebut dengan tidak lupa membawa buletin yang sedang menanti untuk ku sebarkan ke saudara – saudaraku se-iman. Ada sekitar seratusan lembar buletin yang telah siap berperang bersamaku melawan penjajah amerika dan anak buahnya. Ada sekitar seratusan buletin yang siap bahu – membahu bersamaku dalam membangunkan umat Islam yang telah tertidur dengan sangat lelap sekali hingga sengatan mentari pun tidak mampu membangunkan mereka. Perlu kerja keras dan usaha sungguh – sungguh untuk menyadarkan mereka dari lamunan tanpa arah dan tanpa batas. Dari buaian mimpi yang tidak pernah jadi nyata. Dari angan – angan kosong yang tersusupi ide – ide sesat dan menyesatkan. Ide sekulerisme, demokrasi, nasionalisme, chauvinisme, patriotisme, materialistik, sinkretistik, sosialisme dan ide – ide busuk sebusuk - busuk lainnya. Kerdil sekerdil – kerdil lainnya. Nista senista – nista lainnya.
Sebuah ide, atau bertahun ide menyesak jiwa dan dunia. Membuat polusi tak terhingga, tak terperi, tak terbayang dan tak terpikir kerusakan yang terlalu serius sehingga mau tidak mau kalau ingin sembuh dan tidak menular harus segera di potong, diamputasi, digorok dan di sayat sampai habis tak tersisa. Benar – benar habis sehabis habisnya hingga tidak pernah lagi bisa dikenal dan ditemui di pinggir – pinggir jalan dan di tengah – tengah pusat keramaian kota. Sebuah ide yang ternyata membuat dunia menjadi terbalik cerminan neraka sesungguhnya terjadi. Sebuah ide yang mampu membuat aku dan saudara – saudaraku terpisah sangat jauh melewati samudera atlantik menuju lautan es antartika hingga tak bisa betemu dan mengucapkan hello barang sedetik pun. Sebuah ide yang ....................
Kembali kepada alur yang hendak ku rangkai dengan kekuatan ruhiyah yang terhembus sempurna melewati dada yang penuh dengan cinta Ilahiyah. Kembali kepada benang merah inti rantai yang hendak kujulurkan panjang sepanjang – panjangnya. Megah semegah – megahnya. Jelas sejelas – jelasnya hingga seluruh penghuni langit dan bumi menjadi tidak bertanya – tanya lagi. Kembali pulang ke rumah keabadian dengan melupakan luka lara yang teramat parah. Luka akibat nasionalisme. Luka akibat demokrasi. Luka akibat sekulerisme. Luka akibat sosialisme. Luka pedang, pisau dan sayatan melintang dan membujur sekujur tubuh yang masih tertidur di kala masa yang belum begitu akur.
Sehabis menghadapkan muka dan hatiku kepada Dia dalam mi’raj indah penuh untaian tasbih dan senandung yang melenakan kalbu dalam sholat Jum’at, aku langsung bahu – membahu dengan Al-Islam yang ku taruh di teras masjid itu. Sekarang kuambillah sahabatku tadi agar bisa lebih bermakna daripada hanya sekedar santai duduk – duduk di teras masjid itu. Meski aslinya memang tujuan ku bawa sahabatku itu ya untuk kusebarkan ke saudara – saudaraku se-iman. Hanya menunggu itu semua terjadi, maka kutaruhlah mereka di atas teras penuh berkah. Selanjutnya tugasku adalah bagian melempar tubuh penuh gores arti sang buletin tersebut kepada darah merahku yang lebih dari darah dan dia atau mereka bertugas membimbing orang – orang yang terkena panah dakwah untuk mengerti akan indahnya kembali kepada keabadian Jannah yang telah dijanjikan oleh-Nya.  
Cukup lama aku berdiri di sebuah pintu gerbang yang terbuat dari jeruji – jeruji besi yang bisa digerakkan ke kiri dan ke kanan. Tentulah gerbangnya bisa berjalan jika ada yang menggesernya, meski hanya digerakkan satu derajat. Aku berdiri dengan kaki dan tangan yang siap berjuang hingga titik darah penghabisan. Aku berdiri sekokoh karang di lautan lepas yang tidak pernah beranjak pergi seperti halnya pintu gerbang di sebelahku. Aku berdiri di pintu saat sang surya yang juga arti diriku tenggelam untuk sejenak mengistirahatkan diri hingga besoknya bisa menaungi bumiku dan aku kembali dengan sinar keperkasaannya. Aku berdiri. Ya, aku berdiri untuk melakukan tugas mulia. Tugas untuk membangunkan umat yang terlelap. Tugas untuk menyadarkan umat yang terdekap. Tugas untuk mengajak umat bangkit bersama – sama dengan ku mengarah ke satu titik kejelasan arti. Arti aku dan semua di semesta. Arti aku dan semua di jagad raya. Arti aku dan semua di ranah hampa.
Cukup lama aku berdiri dengan sahabat ku berbagi tugas mengarahkan orang – orang agar jangan sampai tersesat di tengah jalan, padahal jalannya masih panjang. Berjalannya kaki, melajunya sepeda motor dan mendesirnya mesin – mesin mobil komersil dan non komersil menjadi saksi bisu akan bahu – membahunya aku dan sahabatku dalam proses panjang penyadaran  umat. Ya, menyadarkan umat untuk kembali. Sengaja ku ulang – ulang terus kata - kata  menyadarkan, biar umat ini jadi semakin tambah terkena panah yang kulancarkan. Semoga juga panahku tepat sasaran agar bisa segera menyembuhkan rasa sakit umat yang telah kronis dan mengakar jauh hingga menyusup dan merasuki setiap sel – sel darah mereka. Menembus sampai di celah antara darah merah dan darah putih.
Hingga hampir habisnya perjuangan siang ini, tidak mengalahkan perjuanganku untuk melanjutkan hidup dan mengakhirinya dengan sebuah kemenangan terbesar yang pernah ada, aku masih dengan beberapa buletin yang tersisa di tangan kiriku dengan semakin menipisnya oksigen orang – orang yang hendak kuarahkan ke arah satu tujuan. Orang – orang semakin mengikis waktu yang tersedia hingga waktu menjadi semakin sempit dan aku menjadi terjepit.
Aku tidak kehabisan akal. Toh aku memang diciptakan oleh Tuhanku dengan kesempurnaan akal memang dan memang akalku diwajibkan untuk mengakali segala sesuatu agar terlihat dan nampak berakal. Tentulah tetap berakal yang dikehendaki Sang Pembuat akal. Aku mengerahkan tenaga ekstra dan kuayunkan kakiku untuk berjalan menyusuri teras – teras di sepanjang teras masjid tersebut agar sahabatku bisa kuserahkan ke tangan orang – orang yang tepat. Aku berjalan sendirian. Aku berjalan dengan keyakinan. Aku berjalan dengan kemantapan.
Akhirnya, amanah telah selesai dilaksanakan. Laporan selesai !!! seperti yang sering kuucapkan untuk kuajarkan kepada anak – anakku di sekolah saat mengajari mereka bagaimana cara menyiapkan dan laporan dengan benar ketika upacara bendera. Meski tentulah upacaranya hanya sebatas tuntutan profesi dan tidak pernah terbersit sekalipun dalam mimpi dan kehidupan nyata untuk benar – benar tenggelam di dalamnya. Memang dulu aku pernah dan sempat tenggelam, bahkan terlalu dalam sampai – sampai aku seakan – akan tidak bisa lagi ke permukaan yang datar. Tapi untunglah aku sekarang sudah selamat karena ada yang menyelamatkan dan memberiku pelampung agar bisa berenang ke tepian pantai tujuan terakhirku dalam menghabiskan nafas yang penuh pertanyaan. Tentu juga atas takdir-Nya lah aku bisa berdiri di jalan ini. Ya, jalan yang dulu ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Jalan yang dulu dilewati para pengikut Rasulullah dan orang – orang shalih. Jalan yang penuh dengan lika –liku dan kerikil – kerikil tajam yang bisa melukai setiap kaki yang melangkah dengan keyakinan. Tapi tetap, asalkan yakin telah ada dalam diri, batu dan duri setajam pedang baja pun sanggup terlalui dengan penuh ambisi untuk menggapai cinta tertinggi. Lagi – lagi cinta tertinggi dengan segala kenikmatan Jannah dan keridlaan-Nya di dalamnya.......................
Kembalilah aku lengkap dengan jiwa dan raga yang masih menempel erat di sukma tanpa hijab yang nyata. Aku dengan penuh senyum kemenangan, ya meski hanya untuk sementara waktu. Aku yang terlalu kecil sekecil inti atom jika dibandingkan dengan tinta ke-MAHA-an-Nya. Aku yang senantiasa berpikir seribu kali untuk menjebloskan diriku sendiri dengan sadar sesadar – sadarnya ke dalam jilatan bara jahannam di akhir kehidupan yang terasa begitu mencekam.
Aku kembali. Kembali ke musholla kecilku untuk merebahkan tubuh yang terlanjur mau kaku dan membekukan diri di dalam sari pati yang murni. Ku merebah bersama tangan menengadah ke arah Sempurna Tanpa Cela sambil bermandikan syukur tak terhingga setelah berjuang selelah dan sepayah keluh kesah menorehkan karya berharga penuh makna dan semoga bisa mewarna dunia agar terlihat lebih cerah tak bernanah dan bernoda kotor polusi dimana – mana.
Aku kembali. Kembali menunggu lagi seperti aktifitas menunggu sejak dari tadi pagi untuk berjumpa dengan surga pertamaku nanti menjelang senja hendak menutup pintu dan menguncinya rapat – rapat. Tanpa kata. Tanpa suara. Tanpa meminta.
Aku kembali. Kembali menyusuri lorong – lorong setiap saraf –sarafku yang masih berfungsi untuk kukembalikan ke Kembali yang sejati - jatinya. Kembali bersama Rabb Penguasa Siang dan Malam. Kembali menemukan diri yang hilang. Kembali berusaha membuka selimut tebal pencegah bersatunya hamba dan Sang Kholik.
Ahhhhhhh, aku benar – benar kembali atau aku masih ingin kembali. Semoga aku benar – benar bisa kembali ke peraduan semulaku kelak ketika hendak menutup mata untuk selama – lamanya. Aku ingin berjumpa dengan Kekasihku. Aku ingin bertemu dengan Rinduku. Aku ingin memegang kuat sekuat – kuatnya Sumber Kekuatan Tak Berbatas Waktu.


1 komentar:

  1. Aku yang disini, selalu rindu akan hadir-Mu di sisi....I LOVE U !!

    BalasHapus