Selasa, 27 Agustus 2013

BERFOKUS PADA PROSES BERORIENTASI PADA HASIL

     Bismillahir Rahmanir Rahim.....
     Untuk mengawali pembahasan kita kali ini, maka alangkah lebih baiknya kalau saya memberikan ilustrasi dahulu sebagai berikut :
     Ada orang pertama yang tidak mempunyai orientasi kesuksesan sama sekali, sehingga dalam hidupnya, dia hidup seperti orang kebanyakan. Dia tidak mempunyai visi hidup dan tujuan ke depannya tidak jelas. Hidup dalam aliran air. Hidup mengikuti jalan orang kebanyakan. Sehingga ketika berproses dalam hidupnya, dia tidak antusias sama sekali untuk mengejar target yang jauh lebih besar.
     Orang kedua berbeda, dia mempunyai target yang jelas dalam hidupnya. Namun sayang, dia selalu fokus pada tujuannya dan tidak menikmati proses sebuah  pencapaian. Ibarat naik tangga, dia ingin menaiki tangga yang ke sepuluh, tapi dia tidak mau berproses untuk naik tangga step by step dari tangga pertama, lalu menaiki tangga kedua dan seterusnya hingga sampailah ke tangga yang dia harapkan. Dia menginginkan kehidupan yang instant. Dia tidak mau dan tidak bisa menikmati proses kehidupan yang justru dengan itulah tangga kesuksesan yang dia inginkan akan menjadi lebih dekat.
     Ada orang ketiga yang bertipe seperti ini : dia mempunyai daya juang yang luar biasa dalam hidupnya. Dia mempunyai semangat dan mungkin juga etos kerja yang patut diacungi jempol. Namun sayang, dia tidak mempunyai visi yang jelas dalam hidupnya. Dia hanya berjuang dengan sekuat tenaga untuk menyukseskan keberhasilan bosnya. Dia tidak mempunyai mimpi yang ingin dia raih. Dia tidak mempunyai sesuatu yang layak untuk dia perjuangkan. Dia kemudian terjebak dengan zona nyaman sama seperti orang – orang bertipe pertama.
     Berbeda lagi dengan orang tipe jenis keempat. Dia mempunyai target yang jelas dalam hidupnya. Dia mempunyai visi yang jelas dan tujuan hidup yang terukur. Namun dia juga berfokus pada proses menuju kesuksesannya tersebut. Dia benar – benar menikmati setiap proses kesuksesan yang dia jalani. Tidak peduli itu merupakan sebuah proses yang menyenangkan atau bahkan menyakitkan baginya. Dia percaya bahwa dia pasti bisa meraih semua impiannya, namun dia juga sadar bahwa untuk menuju ke arah sana, dia perlu berproses dengan segala pernak – pernik yang ada di dalamnya. Dia yakin bahwa semua impiannya tidak akan bisa teraih dengan instant. Dia selalu menikmati apapun jalan yang ada di depannya untuk menuju ke pintu gerbang keberhasilan yang dia inginkan.
     Oke. Mari kita membahas satu demi satu tipe orang – orang di atas agar kita bisa mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Orang pertama adalah orang kebanyakan yang hidup di dunia ini. Bisa jadi mungkin kita termasuk orang – orang di dalamnya. Orang – orang yang hidupnya hanya untuk bekerja dengan cara biasa, memenuhi kebutuhan perut dirinya dan keluarganya dan beraktivitas dengan tanpa visi besar untuk mengakhiri hidupnya dengan penuh kegemilangan. Hari demi harinya dia jalani dengan biasa – biasa saja. Pergi pagi pulang petang punggung pegal pikiran pusing perasaan penat dan penghasilan pas - pasan hanya untuk menuruti keinginan orang lain. Jika dia bekerja untuk pimpinannya, maka sejatinya dia hanya akan merealisasikan tujuan dan visi besar pimpinan tersebut. Dia lalu dapat apa? Dia dapat tidak lebih hanya sebuah gaji atau bayaran atas semua keringatnya. Gak lebih. Dan itulah jenis orang – orang kebanyakan di dunia ini. Orang – orang yang hanya sebagai pelengkap orang – orang besar untuk mencapai visi besarnya.
     Kalau dikaitkan dengan santri yang dikirim oleh orang tuanya ke  sebuah pondok untuk menimba ilmu – ilmu agama, maka si santri tidak mempunyai mimpi sama sekali untuk menjadi pejuang – pejuang Islam di masa depan dan gairahnya untuk menguasai tsaqofah Islamiyah sangatlah minim. Jadi hari – harinya hanya bersifat rutinitas belaka tanpa ada ghiroh dan ruh dalam menjalani setiap aktivitasnya. Sehingga akibatnya apa? dia akan merasa tidak betah di pondok dan bawaannya hanya ingin pulang saja, bahkan bisa jadi dia akan kabur dari pondok meski hal itu sangat dilarang.
     Kemudian orang tipe yang kedua, bisa jadi dia lebih baik dari orang jenis pertama. Hanya kemudian sangat sedikit sekali dari orang – orang tersebut yang bisa merealisasikan harapan dan tujuan dalam hidupnya. Tahu mengapa kawan – kawan? Karena dia berorientasi pada hasilnya, tetapi tidak mau berproses dalam menjalani setiap jenjang tangga  kesuksesan yang ada di depannya. Sukses yang cepat adalah keinginannya. Sebagai contoh, jika dia menginginkan untuk menjadi seorang manager di salah satu perusahaan, maka dia inginnya langsung menjadi seorang manager tersebut tanpa mau menjadi bawahan atau staf terlebih dahulu. Kalau memang dia masuk awal kerja dan ditempatkan di bagian staf biasa, maka dia menjalani hari – hari kerjanya dengan tidak semangat dan memiliki antusias yang tinggi. Dia tidak mau bersusah payah mengerjakan urusan  - urusan sepele – tentu bagi dirinya sendiri,red – dan hanya ingin mengerjakan hal – hal yang besar. Dia lupa bahwa tidak ada orang besar yang tidak berasal dari orang kecil terlebih dahulu. Dan tentu harus kita ingat bahwa “Tidak semua prajurit yang baik itu akan menjadi seorang jendral yang baik. Tapi bisa dipastikan bahwa seorang jendral yang baik pastilah berasal dari seorang prajurit yang baik”. Jendral yang tegas tentulah berasal dari prajurit yang tegas. Jendral yang berinisiatif tinggi pasti berasal dari seorang prajurit yang juga mempunyai inisiatif yang tinggi. Dan tentu saja jendral yang bisa memimpin dengan baik pasti berasal dari prajurit yang selalu menuruti keinginan pemimpinnya dan dia bisa dipimpin dengan baik pula.
     Kalau dikaitkan dengan kehidupan santri di suatu pondok pesantren, maka orang – orang bertipe ini inginnya bisa menguasai ilmu – ilmu agama secara cepat. Kalau dia menginginkan menjadi seorang faqqih fid-dien, maka dia sangat malas untuk berproses menggapainya. Dia merasa sangat senang jika bisa menjadi orang yang ahli dalam masalah agama, tapi dia lupa bahwa untuk meraihnya diperlukan usaha yang keras dan waktu yang lama untuk mendapatkannya. Dia tidak mau melakukan hal – hal yang akan bisa mengakibatkan dia lelah dalam berusaha, sehingga yang terjadi adalah timbulnya rasa bosan dan kemalasan yang luar biasa dalam diri si santri.
     Jika untuk orang – orang tipe ketiga sepertinya mungkin sedikit sekali. Karena bisa jadi orang yang bersemangat dalam hidupnya sudah pasti ada sesuatu yang ingin dia wujudkan. Ada sesuatu yang harus dia realisasikan. Hidup bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa bertanggung jawab atas kesuksesan dalam hidupnya, bukan kesuksesan orang lain.
     Lalu bagaimana dengan orang jenis keempat ini?  Orang jenis keempat ini kalau boleh saya katakan adalah dia termasuk tipe favorit saya. Orang – orang bertipe ini mempunyai karakter yang cukup istimewa. Inilah orang – orang hebat. Inilah orang – orang yang bisa menjadi seorang pemenang sejati. Inilah orang – orang yang bisa menjadi pemimpin dambaan umat. Inilah orang – orang yang layak mendapatkan kesuksesan yang dia impi – impikan. Inilah orang –orang yang mungkin seharusnya bisa kita contoh setiap langkah – langkahnya dalam meraih kesuksesannya.
     Orang – orang jenis ini sudah mempunyai visi tertinggi kehidupan dan berorientasi pada hasil sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya di tangga pertama tempatnya mengembangkan diri untuk meraih impian – impiannya. Dia yakin dan percaya bahwa dia pasti akan bisa berada di puncak kesuksesan itu suatu saat nanti. Dia percaya diri dengan segala kelebihan dan kelemahan yang ada pada dirinya. Dia berusaha untuk selalu memperbaiki dirinya kapanpun dan dimanapun. Dia sadar bahwa dia tidaklah sempurna dan sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi orang yang sempurna. Dia bangga dengan dirinya sendiri dan tidak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk mencoba menjadi orang lain. Dia percaya bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, namun dia berusaha senantiasa untuk mendekati kesempurnaan tersebut.
     Yang tidak kalah penting untuk disimak adalah orang jenis ini memang mempunyai visi yang tinggi, tapi dia selalu berfokus pada prosesnya. Dia yakin bahwa untuk mencapai puncak kesuksesan, maka diperlukan usaha yang serius dan sungguh – sungguh dengan diiringi perasaan senang hati dan menerima apapun resiko perjuangan yang ada di hadapannya. Dia percaya bahwa ada harga yang harus dibayar untuk mencapai sebuah kesuksesan.
     Satu contoh kecil jika seseorang menginginkan jabatan untuk menduduki posisi manager dalam salah satu bidang di perusahaan tempat dia bekerja, maka hal pertama – tama yang harus dia lakukan adalah dia harus bersyukur terlebih dahulu jika kemudian sang pemilik perusahaan menaruh dia hanya di jajaran staf biasa. Dia bersungguh – sungguh menjalankan setiap dan sekecil apapun amanah yang dipercayakan kepadanya. Karena dia menganggap bahwa jika seseorang tidak sanggup untuk menjalankan amanah yang masih kecil, maka jangan harap dia akan mampu untuk menyelesaikan amanah yang jauh lebih besar. Tapi kemudian apakah sampai disitu perjuangannya? Tentu tidak kawan! Dia berusaha untuk memantaskan dirinya menjadi seorang yang profesional di bidangnya disamping dia juga harus mempelajari bidang – bidang yang lainnya dan berusaha untuk mengetahui keadaan dan psikologi lingkungan serta kawan – kawan tempat dimana dia bekerja. Karena setidaknya itulah modal dasar yang harus dia punyai sebelum benar – benar dipercaya oleh si pemilik perusahaan untuk menjadi manager salah satu bidang di perusahaannya itu. Sehingga logika selanjutnya adalah jika seseorang menginginkan posisi yang lebih tinggi daripada hanya sekedar menjadi seorang manager, maka usahanya juga harus seratus persen lebih serius tanpa ada penawaran lagi. Semakin tinggi jabatan, kedudukan atau kekayaan dan status sosial yang ingin dia raih, maka semakin besar pula daya dobrak yang harus ada dalam dirinya!
     Kalau dikaitkan dengan perjuangan seorang santri yang ingin menjadi pembela – pembela Islam dan penjaga Al-Qur’an, maka dia melakukan setiap aktivitas yang akan lebih mendekatkan dirinya dengan impiannya itu dengan senang hati dan sangat serius. Dia berani untuk berjuang mati – matian demi mengejar mimpi – mimpinya tersebut. Setiap harinya dia sudah merancang kegiatan apa saja yang akan dia lakukan untuk mengisi waktu – waktu luangnya selain jadwal yang sudah ditentukan oleh pondok. Dia sangat ingin untuk menjadi kupu - kupu yang elok rupawan, tapi dia bersedia untuk menjadi kepompong terlebih dahulu. Bahkan jika untuk menjadi kepompong itu diperlukan waktu yang sangat lama dan pengorbanan 1000% untuk tidak makan dan minum selama proses tersebut, maka dia mau menjalaninya. Si santri tidak akan mau mengikuti ajakan teman – temannya untuk terus bermain di tengah – tengah waktu luangnya. Dia akan mengggunakan waktunya dengan sangat efektif agar mimpi – mimpinya bisa segera tercapai. Dia akan bisa menggunakan waktu istirahat, waktu senggang, waktu ibadah dan waktu belajarnya dengan cermat.
     Kalau menurut pengalaman pribadi saya sich, saya tidak akan mau menuruti keinginan orang lain yang itu tidak ada manfaatnya buat saya, baik untuk pengembangan diri saya ataupun untuk meraih mimpi – mimpi saya. Saya tidak akan mau menjadi alat kepanjangan tangan orang lain dalam meraih mimpi – mimpinya jika mimpi - mimpinya tidak selaras dengan mimpi – mimpi saya. Tapi saya siap dipimpin dan disuruh oleh siapapun orangnya yang beliau itu bisa mengembangkan pribadi saya dan membantu saya dalam meraih mimpi – mimpi saya. Saya mau merealisasikan mimpi – mimpi beliau jika dengannya mimpi – mimpi saya juga akan bisa terwujud.
     Kalau dikaitkan dengan orang – orang beriman yang dia hanya mau melakukan setiap aktivitas dalam hidupnya hanya untuk menggapai ridho dan kasih sayang Allah SWT semata, maka dia tidak akan mau bertindak dan melakukan suatu perbuatan yang justru itu bisa membuat Allah SWT marah. Dia tidak akan mudah menuruti keinginan teman – temannya yang mencoba menggantikan kenikmatan surga yang dia idam – idamkan kelak di akherat hanya demi kesenangan dunia sesaat. Dia menginginkan surga dan berani membayar harga dari kenikmatan surga tersebut dengan cara dia selalu mengerjakan amalan – amalan yang akan lebih mendekatkan dirinya dengan apa yang dia inginkan. Orang – orang tipe keempat ini sangat hati – hati dalam melangkahkan setiap kaki – kakinya. Orientasi perbuatannya hanya untuk Allah SWT sebagai tujuan dari segala tujuan dalam mengarungi kerasnya ombak lautan kehidupan ini.
     Dari paparan saya yang cukup panjang di atas, semoga bisa memberikan satu gambaran utuh akan sebuah fakta kehidupan yang ada di sekitar kita dan bagaimana cara kita memilih respon terhadapnya. Yang jelas kita bebas memilih akan menjadi seperti apa kita. Kita bebas menentukan pilihan kita sejauh itu bisa membuat kita lebih berguna dan bisa berkarya lebih besar lagi untuk kepentingan agama, bangsa dan kehidupan secara umum.
     Di sini saya hanya membuat satu peta pikiran untuk memudahkan kawan – kawan memahami tipe – tipe kecenderungan seseorang dalam menjalani setiap aktivitas hidupnya. Saya tidak ada maksud sama sekali untuk menganjurkan kawan – kawan agar memilih sesuai dengan apa yang saya pilih. Ingat kawan bahwa kita hidup sekarang itu dibentuk atas pilihan – pilihan kita di masa lampau dan kita sedang menentukan pilihan dalam menjalani hidup di masa kini untuk menyongsong hari esok yang diharapkan bisa jauh lebih baik dan berkah. Life is a choice and we are free to choose the best one for us ! Hidup adalah sebuah pilihan dan kita bebas memilih apapun di hadapan kita yang kita anggap itulah yang terbaik bagi hidup dan kehidupan kita!

     Selamat memilih apapun pilihan yang ada di depan kawan – kawan dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua, sehingga kita akan bisa selalu memilih jalan yang akan bisa lebih mendekatkan diri kita kepada-Nya hari demi hari, minggu demi minggu, bulan  demi bulan dan tahun demi tahun hingga ajal menjemput kita........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar