Selasa, 22 Januari 2013

JEJAK – JEJAK ITU


Setelah sekian juta jarum detik menunjukkan kegagahannya
Kini ku sampai pada satu masa, ruang n waktu yang hampa kembali
Kejadian yang terus berulang berulang – ulang kali yang selalu terus berulang untuk ulangan yang ke sekian kalinya selalu berulang dalam hidupku

ku  melihat jejak – jejak itu
Di tempat yang sama
Dalam dimensi yang berpendar sempurna sesempurna – sempurnanya di dinding - dinding hatiku
Kembali mengalirkan aliran yang sangat deras dari sumber telaga murni
Deras sederas – derasnya

Suasana yang tampak tidak asing
Aku pernah di sini
Di tempat ini
Tapi dengan warna – warna pelangi yang masih menari – nari di langit – langit rasa dalam jiwaku

Waktu itu
Masa yang selalu menjadi jam tangan yang mudah dilihat dan bisa menjadi pengingat akan setiap waktu yang terus berulang
Lagi – lagi berulang kali terus berulang

Aku selalu melihat bayang – bayang itu lagi dengan sangat jelas karena tapak kakiku membentuk sebuah jejak – jejak di atas tanah – tanah yang menyatu dengan jejak – jejak itu
Jejak – jejak yang selalu terukir di dinding – dinding hatiku

Ahh.....
Mengalir sajalah
Ku yakin pasti ada jalan untuk bisa menghapus jejak – jejak itu bersih sebersih – bersihnya dari dinding – dinding hatiku
Meski jika seandainya jejak – jejak kakiku berada di atas tanah – tanah yang telah terukir jejak – jejak itu

Aku gak akan melirik lagi
Tapi jika aku bisa
Semoga aku bisa......

20/1/2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar