Senin, 03 Desember 2012

SEBUAH PROSES


Keindahan kupu - kupu yang berlarian dan menyanyi riang gembira bersama sekumpulan burung gereja di halaman rumah terlihat begitu menyenangkan di matanya yang terasa agak perih. Dengan di belai oleh kehangatan sinar sang surya pagi ini membuatnya semakin merasa nyaman untuk bisa meneruskan hidup kembali. Tidak ketinggalan juga sapaan mesra angin yang bertiup sepoi – sepoi mengalir lembut melantunkan simfoni – simfoni merdu nan menawan. Juga jam dinding di dalam rumah yang berjumlah tiga buah itu mencoba mengintipnya yang sedang menghibur diri di teras rumah setelah kejadian akhir – akhir ini.
Dia menghadapkan wajahnya ke arah wajah sang surya yang baru menyapa dunia dengan senyum indahnya agar semua bagian tubuh yang terasa lemas mulai kemarin malam menjadi agak berkurang rasa lemasnya. Memang rumahnya menghadap ke arah sang surya ketika hendak muncul untuk memberikan senyumnya kepada dunia. Sehingga di jam 08.00 ini sang surya langsung bisa mengenai sebagian besar bagian teras rumahnya dikurangi bayang – bayang yang tercipta akibat terhalangnya sinar sang surya karena dua pohon yang berdiri berjajar dengan gagahnya. Pohon mangga di sebelah kanan rumahnya yang berukuran sedang dan pohon belimbing yang berukuran cukup besar di sebelah kiri ditambah bunga – bunga yang mulai bermekaran di sekitar pagar – pagar itu sempat mengalihkan perhatiannya hingga akhirnya ikan – ikan yang terus bercanda dan bermain petak umpat di dalam kolam yang berukuran 40 x 50 cm dengan tinggi 10 cm yang terletak di sudut utara dan menempel dengan sisi dinding rumah bagian luar tiba – tiba memanggil – manggil Surya Putra, seorang pemuda dua puluh lima tahun yang tadinya sedang menikmati kehangatan sang surya untuk segera mendekat.
“Subhanallah indahnya ciptaan-Mu”, sambil melihat sekeliling bersama dekapan sinar sang surya yang membelainya mesra. Ikan – ikan yang terus bercanda itupun turut manambah kekaguman akan ke-MAHABESAR-an dan keindahan ciptaan-Nya.
“Adakah ciptaan-Nya yang sia – sia? Adakah ciptaan-Nya yang terbuang percuma? Adakah ciptaan-Nya yang tiada bermakna? Tidak. Itu tidak mungkin. Pastilah semua yang ada di dunia ini mempunyai arti sendiri – sendiri. Kalau kita belum bisa menangkap arti dari masing – masing ciptaan-Nya, jangan lalu kita menyalahkan Tuhan yang tidak profesional untuk menciptakan sesuatu. Kalau kita memang belum bisa menangkap hikmah di balik penciptaan kutu rambut, jangan lalu kita menyalahkan-Nya karena membuat benda menjijikkan menurut kita itu. Jangan. Itu tidak boleh. Jangan. Itu tidak benar. Justru karena kelemahan kitalah menyebabkan masih banyak rahasia – rahasia Nya yang belum terungkap”, gumamnya dalam hati.
“Kalau aku gimana ?”, tanya Surya pada diri sendiri saat merenung tentang keindahan dan kesempurnaan semua ciptaan-Nya.
“Kalau aku gimana ?”, tanya Surya menegaskan lagi pada diri yang terdiam membisu.
“Kalau aku gimana ?”, tanyanya lagi untuk ketiga kalinya pada dirinya yang terdalam untuk mencoba menjawab semua pertanyaan yang masih berkelebat di ruang – ruang dalam jiwanya.
“Kalau memang semua yang telah Kau ciptakan di dunia ini pasti ada artinya. Kalau memang semua yang telah Kau ciptakan di dunia ini pasti ada hikmahnya. Lalu apa arti semua ini ? Apa hikmah di balik semua peristiwa yang telah terjadi padaku ?” Surya bertanya kembali ke kedalaman hatinya.
Sambil terus memandangi ikan – ikan yang berwarna – warni berkeliling ke ujung – ujung kolam untuk mencari sisa – sisa makanan yang kemarin telah diberikannya, Surya masih belum bisa menemukan jawaban terhadap misteri kehidupan yang telah menimpanya.
“Apa salahku Ya Allah ?”, terbersit dalam hatinya yang sempat merasa tidak nyaman dengan diri sendiri dan suasana yang menimpanya.
Lalu tiba – tiba dia teringat akan wajah yang selalu menghantui mimpinya lima tahun belakangan ini. Wajah itu. Wajah yang selalu tersenyum kepadanya. Wajah itu. Wajah yang terus mengusik hati terdalamnya. Wajah itu. Wajah yang selalu menghiasi setiap bagian dari hidupnya. Wajah itu. Wajah yang kini telah menjadi milik orang yang baru dia kenal.
Bermula dari perjumpaan yang tidak disengaja saat bersama – sama mengisi kajian Ramadhan di salah satu sekolah SMP Negeri di kota Bangil, Pasuruan. Bermula dari itu Surya kemudian bertanya kepada Musyrif nya tentang siapa nama gadis itu. Dia tidak berani bertanya langsung kepada gadis tersebut karena memang menurut agama Islam, bertemu dan bercakap – cakap dengan  lawan jenis yang bukan mukhrim dengan tidak disertai oleh kepentingan syar’i itu tidak boleh. Akhirnya ketemulah nama si gadis itu. Ya, nama yang sangat indah. Namanya Alisha Nur Rahmah. Gadis dengan kerudung dan jilbab hijau batik itu terus membayangi setiap hari – hari Surya setelah itu.
Awalnya memang tidak ada perasaan apa – apa. Hanya bermula dari keisengan untuk bertanya tentang namanya membuat sesuatu yang fitrah itu terjadi. Rasa ketertarikan dengan lawan jenis yang bisa membuat damai hati. Rasa yang pasti ada di hati setiap insan yang normal. Rasa yang pasti diikutkan di setiap penciptaan makhluk yang bernama laki – laki dan perempuan oleh Tuhan mereka.
Surya pun juga sebelum bertemu dengan Alisha, sudah ada dua gadis di kehidupan sebelumnya. Yang pertama bernama Ayunda Lizia Putri yang dikenalnya sejak masih SMP dan yang kedua bernama Diah Ayu Silviana yang dikenal tepat dua tahun sebelum dia bertemu dengan Alisha. Tapi yang ini berbeda. Surya bertemu dengan Alisha di jalan dakwah. Surya bertemu dengan Alisha saat dia baru mengenal akan arti dari sebuah kehidupan ini berikut tugas – tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang manusia. Surya bertemu dengan Alisha saat dia baru mengerti akan arti sebuah kedewasaan. Akan arti dari sebuah proses kehidupan.
Kalau cerita antara Surya dengan Ayunda, kejadiannya bermula ketika Surya menjadi pemimpin upacara pada waktu SMP kelas 7 dan Ayunda menjadi salah satu Paskibra bagian kanan pada saat upacara yang sama. Berawal dari itulah akhirnya Surya menaruh perasaan lebih kepada Ayunda. Dengan rambut panjang di bawah bahu, menari – nari ketika dihembus oleh tiupan angin yang mendekap hangat dan warna hitam menyelimuti setiap helai rambutnya membuat Surya semakin terpikat padanya. Ternyata Surya dan Ayunda pun berada di kelas yang sama, yaitu kelas unggulan 7A. Saat itu Surya menjadi ketua kelas dan Ayunda menjadi sekretaris kelas. Perasaan itu dipendam hingga awal semester kedua berjalan dengan sangat lambat. Akhirnya Surya pun mencoba untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Ayunda. Awalnya Ayunda menolak dan dengan malu – malu segera berlari menjauhi Surya. Tapi Surya tidak menyerah, dia terus mendekati Ayunda tanpa kenal lelah dan berusaha untuk menjinakkan hatinya yang teramat dingin.
Memang beralasan Surya menaruh hati kepada Ayunda. Disamping parasnya yang cantik dan tubuhnya yang tinggi semampai serta putih kulitnya bisa menerangi malam yang terlalu hitam, dia juga memiliki personality yang lembut dan brain yang lumayan encer. Terbukti ketika semester satu dia meraih juara dua di kelas. Awalnya Surya menaruh perhatian kepadanya hanya karena kecantikannya, tapi setelah tahu kalau dia juga cukup cerdas dan mempunyai kepribadian yang baik, akhirnya dia menjadi semakin berhasrat untuk memilikinya. Kok berani Surya mencoba untuk memikatnya? Siapa sich Surya? Apa kelebihannya?
Surya adalah sosok yang boleh dibilang hampir mendekati sosok yang ideal. Dengan wajah yang menawan, kepribadian yang lembut, sikap tegas pada setiap kesalahan yang dilakukan oleh teman – teman sekelasnya dan prestasi akademiknya yang sangat bagus, dia pantas kiranya memiliki sosok seperti Ayunda. Dia menjadi juara satu di kelasnya mengalahkan Ayunda yang hanya berdiri di juara dua. Prestasi non akademiknya juga bisa dibilang cukup memuaskan. Meski masih kelas 7, dia sudah menjabat menjadi wakil ketua OSIS untuk satu tahun periode kepengurusan. Ya. Dia layak mendapatkan Ayunda.
Hingga awal semester satu di tahun selanjutnya, tepatnya kelas 8 lah Surya akhirnya berhasil menaklukkan hati Ayunda. Dengan berbekal ketulusan dan kepintarannya dalam merayu wanita, dia berhasil memikat sosok Ayunda dan Ayunda pun jatuh ke dalam tangannya.
Di kelas 8 itulah prestasi keduanya menjadi semakin melejit. Surya akhirnya terpilih menjadi ketua OSIS dan Ayunda terpilih menjadi ketua Pramuka. Memang Ayunda aktif dalam kegiatan kepramukaan di sekolahnya waktu itu. Bahkan dia menjadi ketua regu putri untuk regu inti pramuka yang dikirim ke tingkat Kabupaten untuk mewakili kecamatannya. Surya pun juga tidak ketinggalan, prestasi menjadi juara umum peringkat kelas menjadi gelarnya di semester satu kelas 8 mengalahkan semua siswa yang berperingkat satu mulai kelas 7 sampai kelas 9. Di bidang non akademik, dia dan regunya berhasil mengikuti Lomba Tingkat Nasional (LT V) di Jakarta tahun 2002. Meski hanya finish di peringkat 3 nasional, tapi prestasi itu adalah puncak dari segala prestasinya dan puncak dari segala prestasi kepramukaan kabupaten tercintanya selama itu. Sebelum regu elang yang dia pimpin mewakili propinsinya, Jawa Timur, selama itu kabupaten Pasuruan tempatnya bersekolah belum pernah berhasil mengikuti lomba pramuka sampai tingkat nasional. Jangankan tingkat nasional, memenangkan lomba pramuka tingkat propinsi saja tidak pernah.
Surya menjadi ketua regu yang sangat berwibawa waktu itu sehingga bisa menjadikan dirinya teladan bagi tim seperjuangannya di regu elang. Kalau Ayunda, meski dia dan regunya harus kandas di tingkat kabupaten, tapi regu mawar yang dia pimpin berhasil menyabet juara 2 tingkat kabupaten.
Hingga memasuki tahun ketiga di SMP itu, kebersamaan keduanya menjadi semakin erat. Meski kelas 8 dan kelas 9 keduanya tidak lagi bersama, tapi keduanya tetap bisa berhubungan satu sama lain. Bahkan ketika sudah mendekati Ujian Nasional dan keduanya sudah off dari semua kegiatan, kedekatannya menjadi semakin intens dengan saling menyemangati dan memberikan dukungan satu sama lain agar ujian menjadi lebih siap. Keduanya juga sering bertemu untuk membahas soal – soal dan kerja kelompok bersama kawan – kawan yang lain guna mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional tersebut.
Akhirnya saat yang mendebarkan itupun tiba. Ujian itu terasa begitu menyenangkan bagi mereka. Betapa tidak, hampir semua soal – soal berhasil dikerjakan dengan baik oleh keduanya. Bahkan Surya mendapatkan nilai sempurna di dua mata pelajaran yang diujikan tersebut. Matematika dan bahasa inggris berhasil diraihnya dengan nilai sempurna.
Dan saat pengumuman kelulusan dan pengumuman peringkat Daftar Nilai Ujian Nasional itupun sudah di depan mata. Seperti yang telah diduga sebelumnya, akhirnya Surya berhasil menduduki posisi pertama perolehan DANUN tertinggi tingkat sekolahan dengan rata – rata 9,5 untuk empat mata pelajaran yang diujikan. Bahkan nilainya berhasil menembus posisi teratas perolehan DANUN tertinggi tingkat propinsi. Sedangkan Ayunda hanya puas menduduki peringkat kedua setelah Surya.
Surya bangga dengan prestasinya dan Ayunda pun menyalaminya sebagai ucapan selamat atas prestasi Surya yang sangat membanggakan sekolahannya. Surya pun juga mengucapkan selamat atas prestasi Ayunda yang boleh dibilang cukup bagus sebagai juara runner up setelah dirinya. Lalu keduanya pun berpisah dan pulang ke rumahnya masing – masing.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Dua tahun berpisah membuat keduanya menjadi jarang bertemu. Memang sekolah yang mereka pilih berbeda. Surya memilih melanjutkan sekolah di salah satu SMA ternama di Surabaya, sedangkan Ayunda hanya bersekolah di SMA Negeri di daerah Bangil, Pasuruan.
Sekarang sudah tahun ketiga keduanya merasakan bangku SMA di sekolah mereka masing – masing. Surya masih menjadi bintang kelas di kelas IPA dan seabrek prestasi non akademik lainnya. Mulai dari juara pertama liga basket pelajar tingkat Provinsi di DBL Arena kota Surabaya, menjadi Paskibraka tingkat Nasional tahun 2004, menjadi duta pariwisata Jawa Timur dan terpilih sebagai pemeran utama dalam fragmen budi pekerti lomba teater se-Jawa Timur yang diadakan di Madiun dengan lakon Joko Sambang. Sedangkan Ayunda, prestasi akademiknya agak menurun dibandingkan tahun – tahun saat dia bersama Surya.
Memasuki awal tahun di kelas 12 terasa agak begitu hambar bagi keduanya. Pertemuan seperti dulu saat masa – masa indah di SMP sudah tidak ada lagi. Surya sudah terlalu sibuk dengan semua aktivitasnya di SMA. Sedangkan Ayunda, jangan ditanya, sejak mulai masuk ke SMA, dia langsung bergabung dengan tim cheerleaders favorit di sekolahnya. Memang prestasi akademiknya jauh berkurang dibandingkan sewaktu masih di SMP, tapi prestasi di dunia yang baru dia geluti, dia bisa menjuarai cheerleaders championship tingkat propinsi. Namun sayang, pergaulan bebas yang selama ini mulai akrab dengannya menggiringnya untuk memasuki dunia yang kelam. Merokok dan gonta – ganti pacar mulai tidak asing baginya. Awalnya kegiatan yang dilakukan oleh Ayunda tidak diketahui oleh Surya, namun lambat laun karena perubahan yang mencolok, akhirnya Surya pun mengambil tindakan tegas untuk memutuskan dia. Berat memang bagi Surya untuk memutuskan Ayunda karena disamping dia adalah gadis yang sempurna, dia juga cinta pertama bagi diri seorang Surya.
Tepat sebulan setelah awal tahun ajaran baru di SMA, keduanya resmi tidak menjalin hubungan istimewa lagi. Keduanya lalu melanjutkan aktivitas masing – masing dengan tanpa komunikasi satu sama lain. Lagi – lagi Surya terlarut dengan segudang aktivitas positifnya dan Ayunda dengan pergaulan bebasnya.
Setelah kejadian itu, Surya berjanji dalam hati untuk tidak akan menjalin hubungan istimewa dengan wanita siapapun sampai dia memutuskan untuk menikah kelak. Dia merasa dikhianati oleh sosok seperti Ayunda. Dia tidak mau mengulangi kesalahan seperti dulu. Dia ingin fokus pada belajar dan mencari pengalaman sebanyak – banyaknya. Sedangkan Ayunda bagaimana? Jangan ditanya lagi, dia sudah memutuskan jalannya sendiri yang sudah tidak berjalan normal di atas rel – rel agama lagi seperti dahulu.
Saat itu bulan Januari 2006, awal tahun di tahun ketiga Surya menapaki tahun – tahun di SMA yang penuh dengan kenangan. Setelah kejadian Surya memutuskan Ayunda, dia merasa hatinya sangat hancur. Maklumlah Surya termasuk anak muda yang belum tahu tujuan utama dari hidupnya waktu itu. Sehingga wajar kalau hanya dengan masalah seperti itu saja bisa membuat Surya menjadi lemas tak berdaya. Tapi kegalauan Surya berjalan tidak begitu lama setelah dia kembali menekuni hobi – hobi positifnya.
Pada saat yang sama, ternyata dia baru sadar kalau di sekolahan tempat dia mencari ilmu sekarang ada sosok yang cukup bisa menyita perhatiannya. Dia adalah seorang adik kelasnya yang masih kelas 10. Wajahnya manis dengan dibalut seragam khas anak SMA, yaitu putih abu – abu dengan tambahan kerudung putih yang menutupi seluruh rambutnya. Gadis itu bernama lengkap Diah Ayu Silviana. Surya tahu namanya saat dia mengabsen satu – persatu seluruh peserta MOS
Kejadian itu bermula saat Surya menjadi Ketua Tim D atau Tim Disiplin waktu pelaksanaan Masa Orientasi Siswa di SMA nya. Ketika pelaksanaan MOS pada bulan Juli 2005 lalu, disamping menjadi penanggung jawab seluruh kegiatan MOS, Surya juga dipercaya untuk langsung memimpin anggota elit yang bertugas untuk menindak setiap pelanggaran yang dilakukan oleh adik – adik baru yang mengikuti kegiatan MOS waktu itu. Sungguh sangat tajam sorot mata Surya ketika menjalankan tugasnya menghukum peserta MOS yang melanggar aturan. Bahkan pernah Surya menggunduli salah satu peserta MOS yang ketahuan rambutnya disemir merah.
Surya memang terkenal sangat disiplin dalam kesehariannya. Sehingga ketika kelas sebelas, dia menang mutlak dalam pemilihan Ketua OSIS yang baru tahun pelajaran 2004/2005 dengan perolehan 78% dari total jumlah suara pemilih waktu itu.
Kejadian MOS berlangsung cukup menegangkan. Dan bagi Surya sendiri, menurutnya ini adalah ajang untuk mengabdi kepada sekolah tercintanya dengan cara benar – benar menerapkan kedisiplinan kepada murid baru sejak masih pertama kali mereka menginjakkan kaki di halaman sekolahnya. Memang sich, dari cara yang diterapkan Surya dengan menghukum tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih dan tanpa pandang sayang, dia banyak dibenci oleh peserta MOS. Dan itulah resiko yang harus diterima oleh Surya. Sehingga hanya Surya lah yang berhak memimpin anggota Tim D sendiri. Karena hampir seluruh temannya di jajaran OSIS yang dipimpinnya tidak sanggup memikul beban tanggung jawab tersebut.
Tapi tidak gadis itu, dia memilih sikap untuk mengagumi Surya sebagai kakak kelas yang tegas dan berdisiplin tinggi. Dia justru memuji ketegasan Surya dalam menindak setiap peserta MOS yang melakukan pelanggaran. Diam – diam Silvi – nama panggilan gadis itu - yang anaknya sangat lemah lembut n santun dalam berbahasa  ternyata menyimpan perasaan yang lebih dari sekedar menghormati Surya sebagai seorang kakak kelas. Diam – diam Silvi ternyata menaruh simpati yang besar kepadanya. Meski perasaan Silvi tidak diketahui oleh Surya dan Surya sendiri memang sudah berjanji kepada dirinya untuk tidak berpacaran setelah dia dikhianati oleh cinta pertamanya ketika masih memakai seragam biru putih.
Sudah 6 bulan sejak pelaksanaan MOS berlangsung. Waktu itu bulan Januari di tahun 2006. Surya secara tidak sengaja berpapasan dengan Silvi di salah satu sudut jalan di halaman sekolahnya pada saat istirahat. Tiba – tiba Silvi mengucapkan salam kepadanya.
“Assalamu’alaikum” terdengar suara lirih dari mulut seorang Silvi
“Wa’alaikumsalam” jawab Surya dengan rasa kaget dan penasaran
Lalu keduanya berpisah tanpa mengucap satu patah kata pun. Silvi melanjutkan aktivitasnya menuju ke perpustakaan dan Surya melaju ke kantin sekolah untuk sekedar mengganjal perut yang telah hampir kosong.
Di kantin itu Surya merenung dan berpikir seorang diri tanpa menghiraukan gurauan dari teman – temannya sambil menikmati segelas es teh dan martabak 2 buah yang baru di angkat dari wajan penggorengan dan masih panas.
Teringat sekelebat cahaya yang muncul dari wajah gadis yang menyapanya barusan. Siapa dia ya? Hatinya bertanya - tanya. Sungguh anggun paras yang baru saja muncul di hadapannya. Dia lalu mengingat – ingat setiap kejadian mulai dari masa – masa MOS hingga saat dia di kantin saat itu untuk mencari jawaban dari gadis yang baru muncul di hatinya.
Ahah, ya aku tahu”, suara pelan keluar dari bibir Surya di sela menghabiskan es teh yang tinggal satu tegukan lagi.
“oh iya, dia namanya Silvi, gadis yang waktu MOS dulu kagum padaku di saat banyak peserta MOS lain yang justru membenciku karena ketegasanku”, tiba – tiba dia tahu jawaban dari pertanyaan yang baru saja muncul.
Waktu itu minggu kedua di bulan yang sama. Seakan Surya melupakan janjinya untuk tidak berpacaran lagi, dia lalu mencoba mendekati Silvi yang nampak bersinar ketika dilihat dari kejauhan. Dia bersama teman – temannya di perpustakaan sekolah ketika jam istirahat untuk melahap buku – buku novel di tempat itu. Ya, hobi Silvi adalah membaca dan dia ikut menjadi salah satu tim redaksi dari majalah di sekolahnya.
“Assalamu’alaikum”, kata Surya sambil mendekati Silvi dan berusaha mencairkan suasana di ruangan itu.
“Wa’alaikumsalam”, jawab Silvi agak kaget dan tidak menyangka kalau Surya yang datang.
Akhirnya percakapan pun dimulai antara Surya, Silvi dan 3 orang teman dari Silvi yang ikut nimbrung di perpustakaan waktu itu.
“Dik, namanya Silvi ya?”, tanya Surya mengawali percakapan
“Iya Kak, kok tahu?”, jawab Silvi sambil sedikit malu menjawabnya
Sebenarnya Silvi sendiri merasa senang ketika Surya menyapa dan mengajak ngomong dirinya. Hanya saja Silvi termasuk anak yang pemalu dan tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Surya. Singkatnya percakapan itu pun dimulai dan berjalan cukup lama hingga tak terasa istirahat yang hanya setengah jam itupun tak terasa sudah dilalui oleh keduanya dan teman – teman Silvi dengan sangat cepat.
Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata Surya sudah tidak seperti dulu lagi sewaktu masih SMP. Dia sudah tidak mau lagi mengumbar kata – kata manis untuk mengikat seorang gadis pujaan hatinya. Dia lebih memilih menjadikan Silvi sebagai adik ketemu gedhe saja, tidak lebih. Surya takut kalau kejadian penghianatan yang telah dilakukan oleh gadis di kehidupan sebelumnya terulang kembali. Meski kemudian Silvi jelas berbeda dengan Ayunda. Silvi anaknya lebih sopan dan tidak banyak tingkah, dan yang terpenting adalah Silvi memakai kerudung meski tidak secara sempurna dengan menyertakan jilbabnya sekalian. Tapi itu sudah menjadi keputusan Surya untuk tidak mau berpacaran lagi. Surya sangat takut menjalani hubungan yang belum halal baginya. Lebih dari sekedar alasan untuk tidak ingin dihianati oleh pasangannya, si Surya ternyata memiliki impian yang cukup mulia, yaitu dia ingin nanti pacarnya akan benar – benar bisa menjadi istrinya kelak. Dan itu masalahnya, dia tidak berani memastikan kalau Silvi nanti akan menjadi istrinya. Toh sekarang dia masih harus menyelesaikan satu tahun yang tersisa dari tingkat SMA ini. Masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan yang baginya benar – benar harus dipersiapkan secara matang dan sempurna. Mungkin kira – kira masih kurang lima atau tujuh tahun lagi Surya menikah, sehingga waktu yang cukup panjang itu dia tidak bisa memastikan untuk bisa mempertahankan hubungannya dengan si Silvi. Surya tidak ingin kalau ke depannya jika dia benar – benar berpacaran dengan Silvi dan tiba – tiba terjadi keretakan yang akhirnya putus, dia tidak ingin sakit hati atau menyakiti hati orang lain. Cukup sekali Surya merasa hatinya begitu hancur.
Huhhhh, ya sudahlah, jalani aja semuanya”, kata si Surya dalam hati.
Bagaimana dengan Silvi? Apakah dia mau menerima begitu saja keputusan Surya untuk tidak mau menjadikannya pacar, padahal dalam hatinya sangat ingin untuk memiliki Surya, seorang lelaki pujaan hatinya? Apakah Silvi rela untuk melepaskan Surya begitu saja? Tentu saja jawabannya tidak. Silvi sangat mencintai Surya dalam hatinya. Sampai – sampai sifat pemalu dalam diri Silvi tidak menghalangi dia untuk mengutarakan maksud hatinya kepada Surya. Tapi sungguh bijak kata – kata Surya dalam memberi pengertian kepada Silvi tentang segala isi hati Surya. Dan akhirnya Silvi pun menerima semua yang dikatakan Surya. Toh itulah yang terbaik bagi keduanya, pikirnya kemudian.
Bulan – bulan terakhir di SMA itu dilalui keduanya dengan sangat kompak. Meski mereka berdua tidak berpacaran, tetapi mereka terlihat sangat dekat. Surya sudah menganggap Silvi seperti adik sendiri. Bahkan kemudian Silvi pernah curhat masalah cowok di kelasnya kepada Surya. Yach, Surya dengan bijak memberi nasehat – nasehat kepada adiknya itu, Silvi.
Sebenarnya Surya sangat berat untuk menjalani kehidupan seperti ini. Aslinya Surya masih sangat berharap kalau Silvi itu bisa menjadi pasangannya kelak, meski sekarang dia hanya menganggapnya sebagai adik. Sedangkan Silvi sendiri ternyata juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Surya. Bahkan ketika Silvi curhat masalah cowok kepada kakak barunya itu, dia sebenarnya merasa risih juga. Tapi mau gimana  lagi? Pikirnya dalam hati. Lha wong Kak Surya sendiri yang menginginkan hubugan seperti itu.
Hari demi hari berlalu, minggupun mulai berganti dengan minggu yang lain dan bulan juga berjalan dengan tanpa henti hingga tidak terasa Surya akan mengikuti Ujian Akhir Nasional di SMA nya. Singkatnya kemudian Surya berhasil meraih peringkat ketiga di sekolahnya. Itu prestasi yang cukup memuaskan bagi Surya. Betapa tidak, teman – teman Surya adalah anak – anak yang mempunyai prestasi terbaik di SMP nya masing – masing, sehingga kompetisi di sekolahnya itu berjalan sangat ketat dan peringkat ketiga itu baginya merupakan prestasi yang patut untuk disyukuri.
Silvi merasa bangga dengan kakaknya itu. Dia merasa senang melihat Surya berhasil meraih prestasi tersebut. Di satu sisi, Silvi juga sangat sedih karena dia akan kehilangan orang yang terlalu baik ke dirinya, yaitu Surya. Silvi gak bisa membayangkan bagaimana dua tahun ke depan akan dijalani di SMA itu tanpa kehadiran Surya di sisinya yang selalu memotivasinya setiap saat.
Akhirnya waktu itupun tiba, saat wisuda SMA tempat Surya menimba ilmu diselenggarakan. Perasaan bahagia, haru dan puas bercampur jadi satu di dalam diri seorang Surya. Silvi pun bisa melihat senyum bahagia kakaknya itu dari atas podium tempat Silvi menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika wisuda tersebut. Ya. Silvi waktu itu menjadi tim paduan suara yang mengiringi wisuda anak – anak kelas 12 Tahun Pelajaran 2005 / 2006.
Saat perpisahan keduanya pun dimulai, mereka seakan tidak mau berpisah satu sama lain. Terlihat jelas perasaan sedih menghinggapi diri mereka berdua.
“Selalu main – main kesini lho Kak kalau Kakak ada waktu luang, ingat lah aku selalu Kak yach “ kata – kata terakhir Silvi mengiringi kepergian Surya dari sekolah itu setelah sesaat sebelumnya dia menitipkan surat perpisahan kepada kakaknya itu.
Insyaallah adikku, always keep your best smilling lho yach, aku gak kan rela kalau adik menangis” kata Surya menutup perpisahan itu.
Secara tidak disengaja keduanya pun meneteskan air mata penuh kesedihan di sela – sela waktu perpisahan itu. Tapi Surya harus tegar. Dia harus melanjutkan kehidupannya dengan penuh semangat untuk mengejar semua impian yang ada di depannya. Dalam hati Surya berandai – andai jika kelak mungkin dialah yang akan menjadi pendamping hidupnya........
Achh, jalani aja semua, serahkan semua pada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam” gumamnya lagi dalam hati.
“Selamat jalan Kak, semoga Kakak bisa meraih semua yang Kakak impikan, adik disini selalu mendoakan yang terbaik untuk Kakak, I’ll miss u Kak, please, don’t forget me Kak yach ! Terdengar lirih kata – kata Silvi setelah keduanya berjalan saling menjauhi satu sama lain ...........
Sesampainya di rumah, Surya membuka surat dari adiknya itu
To: Kak Surya
Sory Kak yach, kalau aku selama nich pernah nyakitin Kakak (baik yang disengaja atau tidak) n makasih banget atas semua perhatian n kebaikan yang selama nich aku terima dari Kakak. Aku gak akan pernah ngelupain semua nich.
Sedih banget Kak coz Kakak akan pergi dari sekolah. Aku akan kehilangan orang yang terlalu baik ke aku.
Makasih – makasih n sekali lagi makasih Kak! Plizz jangan pernah lupain aku yang jelek ini yach.... hehehe.......34x
Aduh........ aku sedih banget Kak. Tapi Kakak janji yach kalau Kakak ada waktu akan maen ke skul n bertemu ma aku.
Janji kak yach!!!!!
“ Keep your smile n don’t forget me, $1∟√ἷ ”
Adekmu,
Silvi

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setahun setelah kejadian itu, Surya tiba – tiba menjadi manusia yang berbeda dari sebelumnya. Berbeda dari teman – temannya kebanyakan. Surya kemudian menjadi sosok yang sangat memperhitungkan setiap tingkah lakunya. Dia tidak hanya melakukan aktifitas hanya berdasarkan ingin mendapatkan manfaat atau menghindari mudharat belaka. Tapi lebih dari itu, dia senantiasa menyandarkan setiap perbuatannya dengan hukum Syara’. Jika kemudian Syariat Islam membolehkan perbuatannya, maka dia bisa melanjutkan aktifitasnya. Tapi jika hukum Syara’ melarangnya, maka dia akan mengurungkan niatnya untuk melakukan aktifitas itu. Sungguh Surya sangat berbeda 180 % dari sebelumnya. Contohnya aja dulu ketika Surya tidak berani menjalin hubungan spesial dengan Silvi hanya gara – gara dia tidak mau nanti kalau mereka berpacaran dan tiba – tiba putus di tengah jalan, dia akan bisa menyakiti hati Silvi atau dia akan tersakiti hatinya oleh Silvi sama seperti waktu kejadian dia diputuskan oleh Ayunda di kehidupan cinta pertamanya. Hanya sebatas itu. Dulu yang dia pikirkan hanya masalah manfaat yang akan timbul atau keburukan yang akan terjadi. Surya gak berpikir sampai sejauh dan sedalam seperti sekarang. Dia tidak sampai menghubungkan setiap perbuatannya dulu dengan pertanggungjawaban dengan Penciptanya nanti.
Kalau sekarang gimana ? Apa yang terjadi dengan Surya dan gimana itu bisa terjadi ? Terus dimana Surya sekarang dan apa kegiatannya ? Apakah Surya telah menemukan gadis pujaan hatinya yang nantinya diharapkan bisa menjadi istrinya ?
Setelah lulus dari SMA, Surya memilih kembali pulang ke kampung halamannya di kota Bangil Kabupaten Pasuruan untuk berkarya disana. Waktu Surya memilih sekolah di Surabaya, dia tinggal di rumah kakeknya yang tidak jauh dari sekolahan tempat dia menimba ilmu di SMA di kota Surabaya. Lalu Surya memilih kuliah di bidang pendidikan dan memilih profesi untuk menjadi guru. Menurutnya menjadi seorang guru adalah sebuah panggilan jiwa dan sarana yang paling efektif untuk mengamalkan ilmu kepada para generasi muda. Surya lalu memilih kuliah di kota Pasuruan di salah satu kampus pendidikan yang ada di sana. Karena Surya begitu mahir dalam berbahasa Inggris, maka dia memutuskan untuk mengambil pendidikan kuliah bahasa Inggris. Menurutnya bukanlah menjadi suatu ukuran baku jika ingin sukses kelak, maka harus kuliah di kampus terkenal dan dengan biaya yang mahal. Menurutnya lagi, semua kampus itu sama, baik kampus negeri maupun swasta. Yang terpenting bagi dia adalah bagaimana seorang mahasiswa bisa memanfaatkan waktu dan seluruh sumber daya dengan semaksimal mungkin sehingga bisa mendapatkan apa yang dicita-citakannya.
Disamping kuliah, Surya juga berdagang kecil – kecilan di pasar Bangil bersama ayahnya. Ayahnya yang seorang penjual sembako disana mengajari Surya bagaimana cara berdagang yang baik. Surya memilih untuk berdagang susu kedelai. Alhamdulilah, meski tidak terlalu banyak keuntungan yang dia dapat, tapi itu sudah cukup digunakannya untuk membayar uang SPP kuliahnya per semester dan semua kebutuhan sehari – harinya. Memang Surya sudah benar – benar lepas dari meminta uang saku n biaya kuliah semenjak dia dinyatakan lulus dari SMA. Surya malu jika sudah lulus SMA tapi masih meminta – minta sama orang tuanya.
“Biarlah uang ayah digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari – hari dan buat uang saku adikku, Alicia Putri yang sekarang baru naik kelas 8 SMP”, gumamnya dalam hati.
Surya tidak malu meski dia mengambil kuliah di jurusan pendidikan dan berprofesi menjadi seorang penjual susu kedelai di pasar. Baginya semua pekerjaan adalah penuh berkah selama orang yang bersangkutan menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan dibalut dengan sikap kejujuran dalam melakukan semua aktivitasnya. Dengan kuliah yang mulainya jam 13.00 sampai jam17.00 itu, dia bisa berjualan pada pagi harinya.
“Alhamdulillah Ya Allah atas semua berkah yang telah Engkau beri!” ucap seorang Surya.
Singkat cerita, setelah masa – masa Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus (OPSPEK) yang dilaksanakan oleh kampusnya, dia mulai menjalani perkuliahan dengan normal. Sampai kemudian Allah mempertemukan Sang Surya dengan kakak tingkatnya semester 5 yang bernama Eka Jaya yang mengajaknya ikut kajian di Lembaga Dakwah kampus (LDK) yang ada di kampus itu. Sebelumnya Mas Eka sudah memperkenalkan diri di hadapan ratusan Mahasiswa Baru (Maba) yang lolos tes masuk seleksi penerimaan Maba sewaktu OPSPEK.
Dari pertemuan yang sangat singkat itu akhirnya Surya mau ikut kajian LDK di kampusnya dan mengikuti pembinaan rutin setiap seminggu sekali yang dinamakan halaqoh. Berkat halaqoh itulah akhirnya benar – benar tercerahkan, baik secara pemikiran maupun perasaannya terhadap Islam. Dari sebuah halaqoh yang sangat sederhana itu, akhirnya Surya benar – benar menjelma menjadi seseorang yang sangat terikat dengan hukum Syara’.
Memang sich untuk awal – awal kali dia ikut kajian tersebut, Surya mengalami pergolakan batin yang sangat hebat. Betapa tidak, hampir semua pemikiran awal yang dia yakini kebenarannya, ternyata berbeda jauh dari isi kajian yang baru dia jalani. Sebagai contoh misalnya, dia dulu sangat mendewa – dewakan nasionalisme. Terbukti ketika dia masih mengenakan seragam abu – abu putih, dia bisa tembus menjadi Paskibraka Nasional tahun 2004. Sungguh sebuah prestasi yang sangat membanggakan dia. Betapa tidak, untuk menuju ke tahap nasional itu, dia telah berhasil menyisihkan teman – temannya dari seluruh sekolahan tingkat SMA se-Indonesia. Dan sekali lagi terbukti bahwa semangat nasionalismenya benar – benar tidak diragukan lagi. Sekedar informasi bahwa untuk menjadi Paskibraka Kabupaten saja, minimal calon Paskib harus berbadan tinggi, tegap dan tidak berkacamata. Terus kesehatannya juga harus fit dan tidak mempunyai riwayat penyakit yang bisa membahayakan. Dan yang terpenting adalah dia harus bisa langkah tegap sempurna, bisa mengibarkan bendera kebangsaan dengan baik dan pengetahuan tentang seluruh hal yang berhubungan dengan nasioalisme harus benar – benar hafal di luar kepala. Tetapi setelah ikut kajian di LDK yang di isi oleh Mas Eka Jaya sendiri, ternyata yang dia temukan lain. Dia baru tahu kalau bendera yang shohih dan bisa mempersatukan seluruh Kaum Muslimin di seluruh dunia hanyalah bendera Rasulullah, yaitu bendera Al-liwa’ dan Ar-Roya. Bahkan kedua bendera ini ada dalilnya sebagaimana hadits yang telah diriwayatkan oleh Ibn Majah dari jalur Jabir yang berbunyi : “Nabi memasuki Mekkah pada waktu Fathul Mekkah dan Liwa’ beliau berwarna putih” (HR. Ibn Majah). Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Imam Ali berkata : Kami tiba di Madinah, “Rasulullah SAW sedang berada di atas mimbar dan Bilal berdiri di depan beliau sambil menggenggam pedang”. Dan banyak Ar-Royah berwarna hitam. Aku bertanya: “apa ini?” Mereka berkata: “Amru bin al-‘Ash datang dari peperangan” (HR. Ahmad).
“Jadi jelas bahwa bendera Kaum Muslimin untuk seluruh dunia yang benar hanyalah bendera Rasulullah semata, dan hanya dengan bendera inilah umat Islam benar – benar bisa bersatu kembali di bawah naungan ridho Allah SWT”, begitu terdengar Mas Eka menjelaskan tentang masalah bendera.
“lho Mas, bukankah kita hidup di Indonesia yang memakai bendera Merah Putih? Bahkan bendera ini diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa dengan darah – darah mereka?” tanyaku.
“Perlu dipahami bahwa tidak hanya masalah bendera semata para pendahulu kita melawan penjajah, tapi lebih untuk mengusir penjajah dari bumi Nusantara itu merupakan suatu kewajiban. Bahkan Bung Tomo waktu itu sampai menggelorakan semangat jihad kepada arek – arek Suroboyo untuk melawan penjajah Belanda sampai titik darah darah penghabisan. Jadi sekali lagi mereka berjuang bukan karena Merah Putihnya, tapi ada dorongan keimanan yang sangat kuat kepada Allah SWT Mas Surya. Mereka percaya bahwa ketika mereka berjuang untuk membela tanah airnya dari para penjajah karena Allah, maka jikalau mereka gugur di medan jihad, tentulah surga menjadi balasannya!” kata Mas Eka.
“ohh... begitu Mas Eka ya. Terima kasih penjelasannya Mas”
“saya lanjutkan lagi Mas ya, bendera ini pulalah yang bisa dijadikan pengikat oleh Khilafah Islamiyah waktu itu untuk menyatukan seluruh penduduknya di semua wilayahnya yang terbentang dari Maroko sampai Merauke. Hanya dengan bendera ini umat Islam benar – benar bisa dipersatukan oleh aqidah yang sama, yaitu aqidah Islam” tandasnya lagi.
“lho, apalagi itu Mas Eka, Khilafah Islamiyah........
“hmmzz...... (sambil tersenyum kecil)”
“Begini Mas Surya, Khilafah Islamiyah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh Kaum Muslimin untuk menegakkan hukum Syari’at Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Definisi ini merupakan definisi yang komprehensif karena berdasarkan fungsi adanya Khilafah tersebut”.
“Lho, kok saya baru tahu masalah itu Mas Eka ya? Padahal saya ini sudah Islam sejak lahir, tapi kok permasalahan sebesar ini saya tidak tahu Mas?” tanyaku lagi.
“Ya itulah Mas Surya, saking pintarnya orang – orang kafir menghapus sejarah kegemilangan Islam dan membelokkan sejarah yang telah ada sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka sekarang sangat takut jika Islam benar – benar berkuasa kembali dengan Khilafahnya, tentulah mereka akan kehilangan kontrol terhadap negeri – negeri Islam yang kaya akan sumber daya alam yang mereka jarah seenak kemauannya sendiri. Mereka sangat takut kalau hegemoni mereka atas dunia ini menjadi hilang. Padahal tau gak  Mas Surya, sungguh Islam dengan Khilafah Islamiyah-nya benar – benar mampu memimpin dunia dan berhasil membebaskan negeri – negeri di dua per tiga wilayah dunia dari penghambaan kepada selain Allah SWT menjadi penghambaan hanya kepada Allah SWT. Dan itu waktunya sudah mencapai tiga belas abad lebih Mas. Terhitung mulai Rasulullah hijrah dan berhasil mendirikan cikal bakal Khilafah Islamiyah, yaitu Daulah Islam yang kepala negaranya dipegang langsung oleh beliau sendiri pada abad ke tujuh hingga berlangsung di zaman Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah dan terakhir Kekhilafahan Turki Utsmani. Kaum kuffar benar – benar bekerja siang dan malam untuk menghancurkan simbol kekuatan, persatuan dan kejayaan umat Islam tersebut hingga mereka - melalui antek – anteknya yang dipimpin oleh Musthofa Kamal At-Taturk lewat konspirasi keji - berhasil menghapus Khilafah Islamiyah pada tanggal 3 Maret 1924. Sungguh sebuah perjalanan panjang yang patut untuk dijadikan ibrah Mas Surya”.
“Ohh.... jadi begitu ceritanya. Terus sekarang, setelah Negara Islam telah dihapus dari peta dunia oleh orang – orang kafir, apa yang harus kita lakukan Mas Eka?” tanya Surya lagi semakin bersemangat untuk memperjuangkan kembali kejayaan Islam.
“Sungguh sebuah pertanyaan yang sangat bagus Mas Surya. Tugas kita sekarang adalah mewajibkan diri kita untuk berusaha keras mewujudkan kembali Daulah Islam  adidaya yang akan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dan mengawali perjuangannya dengan mengemban dakwah Islam, melakukan aktivitas untuk melanjutkan kehidupan yang Islami di seluruh negeri Islam, membatasi pusat aktivitasnya di satu atau beberapa wilayah agar menjadi titik sentral, hingga dapat memulai aktivitas yang benar – benar serius. Inilah tujuan yang sangat besar yang wajib ditempuh, berani menanggung berbagai resiko penderitaan di jalannya, mencurahkan segenap kemampuan dan berjalan terus penuh tawakkal kepada Allah SWT tanpa menuntut imbalan apapun selain untuk meraih ridha Allah SWT”.
“Sungguh sebuah penjelasan yang sangat panjang, detail dan menggugah semangat untuk berjuang di jalan Allah Mas Eka”
“iya, Alhamdulillah kalau begitu”
“oh iya Mas Surya, hampir saja saya lupa. Bahwa aktivitas untuk mengembalikan kembali Khilafah Islamiyah itu bukan sekedar aktivitas politik untuk bisa mendapatkan kekuasaan lho. Bahkan ini menjadi sebuah kewajiban paling agung yang dibebankan oleh Allah SWT dan ini merupakan konsekuensi dari kita beriman kepada Allah SWT. Bagaimana Mas Surya, setelah ini sampean siap untuk menjadi pejuang dan penjaga – penjaga Islam?”
Insyaallah saya siap 100 % Mas Eka”.
Alhamdulillaaahhh.........”
Begitulah hari – hari Surya Putra dilaluinya dengan semangat baru untuk memperjuangkan tegaknya Dienul Islam di muka bumi kembali. Meski terkadang untuk memperjuangkannya melalui cobaan dan ujian – ujian yang cukup berat.
Di tengah ikatan semua nasionalisme demokrasi benar – benar mencengkeram negeri ini. Di tengah sistem kehidupan yang sudah jauh dari nilai – nilai Islam. Di tengah itu semua, Surya mulai berjuang untuk merubah kondisi semacam ini menjadi sebuah kondisi yang kemudian Islam menjadi peraturan hidup yang bisa mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek individu, masyarakat maupun sampai aspek negara.
Di tahun pertama dia kuliah, tidak ada kejadian yang terlalu istimewa. Aktivitas kuliah waktu siang hari, ngaji pemikiran Islam di LDK yang baru dia ikuti setiap seminggu sekali, berdakwah kepada kawan – kawannya untuk bisa terikat dengan hukum Syara’ dan tetap berjualan susu kedelai pada pagi hari menjadi aktivitas rutinnya. Hanya mungkin pada semester kedua, dia bisa mendapat beasiswa PPA, yaitu beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik karena prestasi akademiknya yang lumayan bagus di kelasnya. Selebihnya yach masih datar – datar saja.
Bersambung........




Tidak ada komentar:

Posting Komentar